30.10.18
Moon
Prewords : conversation with the moon

How i miss our nights, lelaki itu bergumam. Mengelus monitor berdebu di depannya. Seperti yang biasa ia lakukan. Pada waktu-waktu itu. Dalam pendar cahaya. Dalam gelap yang merayapi sekujur bumi. Atau dalam ruang sepi yang ia bangun untuk mereka. Tempat mereka melakukannya ; duduk dan bicara. Agar mereka ada. Biar hanya untuk kembali tiada.

And i miss our conversations, si lelaki melanjutkan. Lirih. Hampir seperti menangis. Atau memang menangis juga. Entah buat apa. Menunggu yang pasti tak datang rasanya seperti gila. Tapi rindu bukan perkara sederhana. Bukan seperti keran air yang bisa diatur untuk mengucur dan berhenti. Si Lelaki sadar itu. Ia pasrah. Menyerah tanpa mengeluh. Tak lagi menahan. Membiarkan perasaannya naik ke permukaan. Menikmati gelembung-gelembung ingatan. Tentang nama dan jiwa-jiwa tercinta. Tentang waktu dan peristiwa. Tentang perjalanan dan pencarian, dan pelajaran yang bertaburan diantaranya.

Berkata itu biasa. Yang susah itu bicara. Mendengar itu bukan apa-apa. Tapi untuk memahami, itu perlu semua indera. Dan lelaki itu begitu merindukannya. Ketika mereka saling bicara. Membentangkan lembar demi lembar cerita. Ditunjukkannya bagian-bagian yang berfhuruf tebal. Sebagai pelajaran di kemudian hari. Berharap agar orang di depannya mengerti.

Dalam waktu-waktu itu, seringkali si lelaki hilang sabar. Ia tak pandai mengajar. Sedang orang di depannya mencerna dengan kecepatan kura-kura. Jadilah si lelaki memaki. Sebetulnya bukan memarahi. Apalagi menyalahkan. Hanya saja ia lupa cara kerja otak setiap manusia berbeda-beda. Kecerdasan itu bukan paket bawaan kelahiran. Bukan konstanta yang begitu saja ada di isi kepala. Tuhan memberikan hampir setiap manusia kesempatan yang sama untuk melatih akalnya. Yang jadi soalnya tinggal bagaimana kita membagi porsi antara pikiran dan perasaan.

Kepadanya si lelaki bilang, bahwa memahami itu pakai otak. Bukan pakai hati. Agar kita berfikir. Bukan merasa-rasa. Tidak semua hal dalam hidup perlu dihayati dengan dungu pakai hati.

"Yang kaya gini ngga ada sekolahnya", si lelaki bilang. Belajarnya mahal. Susah. Lama. Dan sakit luar biasa. Karena pengalaman adalah guru yang brutal. Tapi kita akan belajar. Mungkin bukan hari ini. Bukan besok. Tapi nanti. Pasti. Karena pemahaman datang setelah keikhlasan. Bahwa ada hikmah dibalik semua kejadian. Asalkan kita bisa mengamati dari sudut yang benar dan di waktu yang tepat.

Semua ini, buat kamu. Cuma ini yang saya bisa, lanjutnya. Iya. Inilah miliknya yang bisa dibagi untuk orang itu ; salah satu dari sedikit manusia pilihan. Setelah semua yang telah dilakukan untuknya. Mungkin tidak sebanding. Mungkin tidak seberapa. Tapi ini miliknya yang paling berharga. Tanpa bandrol yang sudah terlalu banyak kita lihat disematkan dunia pada sesuatu yang disebut rasa.

 
posted by Unknown at 10:10 AM ¤ Permalink ¤