prewords : Ini tentangmu
Ada yang menahannya disana. Ada sesuatu yang membuatnya tetap seperti itu. Berdiri di depan gerbang yang sunggung sangat dikenalnya. Gerbang besi bercat hijau, di depan rumah hijau. Hanya berdiri. Tidak mengetuk. Apalagi menggedor. Seperti kebiasaannya setiap kali datang. Padahal gerbang itu belum terkunci. Masih jam delapan malam. Ia lupa sejak kapan berdiri disitu. Mungkin sejam. Dua jam. Atau lebih. Menimbang untuk masuk atau tidak. Berfikir kata apa yang akan dikatakannya nanti jika ia masuk.
Ini bukan kali pertama. Juga bukan hari pertama. Kemarin dan kemarinnya lagi pun sama. Selalu berdiri di depan gerbang. Entah apa yang ditunggu. Si lelaki sendiri tak mengerti kenapa bisa begini. Butuh berhari-hari untuk menyusun sekumpulan kata yang hendak disampaikan. Ribuan kata yang intinya adalah maaf. 4 huruf sederhana yang entah kenapa rasanya begitu berat. Bukan sekali-dua kali ia meminta maaf. Hanya untuk kali ini lain rasanya. Ini seperti kaset rusak yang diputar terus menerus. Hingga lama-lama ceritanya bisa ditebak. Basi. Terlalu basi untuk bisa dicerna lagi.
Samar si lelaki mengingat peristiwanya. Sedikit saja. Dibawah sinar mata tajam orang yang sangat disayanginya, si lelaki pergi. Pamit untuk sejenak menyepi. Si lelaki ingin orang itu mengerti bahwa dipaksakan bagaimanapun, tak akan ada keadaan yang lebih baik selain sebentar memisahkan diri. Memang ada hal-hal yang tak bisa berjalan bersama. Memang tidak semua kepala berisi sama. Inilah hidup. Inilah keluarga. Harus selalu ada beda. Itu indahnya. Itu seninya. Dan itu yang membuat manusia bertahan dari evolusi panjang. Karena manusia harus selalu mengatasi perbedaan antar sesamanya.
Ego. Atau entah apa namanya. Si lelaki mendesah pelan. Alangkah besar kata itu. Menyangkut harga diri seorang manusia. Menyangkut seluruh tatanan kebersamaan hidup yang bernama keluarga. Ego yang bisa dalam sekejap menghancurkan semuanya. Diatas egonya manusia bisa hidup,. Dan ketika sayap egonya hancur, seketika itu juga seorang manusia bisa jatuh dan berkeping. Mendarat di kerasnya kenyataan. Si lelaki menyadarinya beberapa tahun belakangan. Bahwa kadang-kadang kita menetapkan harga terlalu tinggi untuk ego kita. Bahwa lamanya lamanya hidup membuat kita lupa untuk sedikit mengangguk dan merunduk. Merendahkan diri sederajat dengan bumi. Tempat dimana kaki kita bepijak. Tempat suatu hari nanti kita kembali. Bukan terbang melayang-layang dengan ego. Seperti orang yang sangat disayanginya itu. Yang hidup dalam kukungan harga diri. Yang kadang menautkan ego jauh diatas batas pengelihatan. Dan ego ini begitu rentan terhdap hal-hal yang seharusnya tak perlu diributkan.
Longgarkan pelukmu
Sandarkan bebanmu
Lihat semuanya
tak lagi sama
Tatap matanya
Dengar keluhnya
Biar dia bicara
Tentang semua *
Sambil bernyanyi pelan di luar gerbang, si lelaki melosot lunglai. Pelan dirabanya perut sebelah kanan. Ada perih menerobos. Sesuatu yang sejak tadi coba diltahannya. Sebetulnya perutnya belum mengijinkan si lelaki terlalu banyak terlalu lama berdiri. Belum lama berselang sejak dokter membuka perutnya dan mengambil sejumput usus busuk dari dalam sana. Ia belum sekuat itu. Ia harus makan. Harus minum obat dan lalu istirahat. Bukan berdiri sendirian. Yang diinginkannya tidaklah banyak. Ia hanya ingin gerbang ini terbuka dan mereka bisa bicara. Si lelaki akan menjelaskan duduk masalahnya dan mereka akan mengerti. Lalu kembali ia dan mereka bisa bersama lagi. Hufff, entah batang rokok ke berapa kali ini. Puntungnya bertebaran di tanah. Dokter-dokter pasti sudah pasti akan menjembreng telinganya tinggi-tinggi. Si lelaki menyeringai. Pun, hanya sedikit yang dimilikinya sekarang. Salah satunya addalah rokok ini. Ia ingin menikmatinya sekali lagi sebelum pulang.
Pulang. Lagi, ada perih yang lain menyeruak ke permukaan. Dipandanginya rumah hijau itu. Seharusnya ia ada di dalam sana. Seharusnya ia tidak berkata pulang. Seharusnya ia berkata datang. Karena ini rumahnya. Disini ia tinggal. Rumah yang selalu menjadi tempat tujuan setelah semua perjalan. Ia membayangkannya pelan. Ada nasi hangat. Ada sayur kesukaannya. Ada kipas angin di kamar. Ada tivi tua yang gambarnya kian hari kian gelap. Ada sepatu coklat. Ada gitar kesayangannya. Ada orang-orang yang disayanginnya sepenuh jiwa raga. Si lelaki ingin mereka mengerti ini. Bahwa ia memang tak pernah mengatakan hurufnya. Tapi memang begitu keadaannya. Bahwa ia terlalu bodoh untuk membicarakannya. Bahwa ia terlalu takut untuk sendirian. Bahwa sampai kapanpun ia ingin tetap menjadi bagian dari rumah hijaunya.
Si lelaki sudah duduk di atas motor ketika dengan putus asa ia memanggil sederet nomor di hapenya. Bunyi tuuuut berkali-kali tanda handphone tidak terangkat. Atau tidak diangkat. Si lelaki menyerah. Setidaknya buat hari ini. Besok ia akan mencoba lagi. Seperti kemarin. Seperti kemarin-kemarinnya lagi. Sampai nanti. Sampai suatu hari nanti pintu itu terbuka lagi. Sebelum berlalu ia sempat mengirim sms buat sang istri yang mungkin sudah cemas menunggu. "panaskan sayur. Aku pulang sekarang”. Setelah itu si lelaki melaju ditelan malam.
Dd pulang, ma …
Footnote :
Penggalan lirik diambil dari lagu "Tentang Semua" - Mayday. Lagu ini direkam dengan penuh keharuan dalam sebuah studio, malam-malam.