17.3.10
Pieces of Me
Prewords : buy one get one

Hei. Ini aku. Masih ingat ?.

Aku bingung. Bagaimana harus memulai (lagi) semua ini ?. Lama berselang semenjak terakhir kali aku ada disini. Dan mungkin akan lebih lama lagi setelah ini. Beberapa waktu lalu aku memutuskan buat berhenti. Berhenti menulis. Berhenti membaca. Berhenti berfikir. Berhenti memandangi. Berhenti berpusat. Berhenti terikat. Behenti ber-empathy. Berhenti apapun yang bikin aku harus kemari lagi.

LelahLuka.

Aku tak lagi lelah. Dan aku mulai membaik. Nama-nama itu pudar perlahan. Seperti juga luka ini yang bisa terkompromikan. Mungkin masih perlu banyak waktu untuk menjadi normal seperti manusia lain. Tapi aku percaya, seperti juga ketika aku melihat lembaran-lembaran ini. Kelak, aku akan membacanya sambil tertawa.

Aku baik-baik saja disini. Masih menjadi lelaki yang sama. Yang pernah dan selalu ada disana. Di jejak yang pernah ditinggalkan di masa-masa lalu. Di tepi sungai. Di tengah lapang. Di kaki-kaki bukit. Di puncak-puncak gunung. Ya. Aku pernah dan masih menjadi lelaki itu. Si kurus yang makan dengan rakus. Si kucel yang selalu kesulitan menyamai waktu bangun dengan matahari pagi. Si aneh yang lebih suka bjork ketimbang avril atau geisha (haaaahhh?) atau siapapun.

Aku akan tetap seperti itu. Lelaki kecil yang mencoba menyemangati diri sendiri di pagi hari. Biarpun harus terhuyung di penghujung malam. Lelaki kecil yang selalu terbangun sejenak di tengah tidurnya. Sekedar untuk melihat apakah ada sederet nomor yang menghubungi selular bututnya. Dan, ya, tentu saja. Aku akan tetap menjadi lelaki kecil yang sama. Yang selalu tergila-gila pada hujan.

Memang ada beberapa beda. Aku bangun pagi. Mandi. Sarapan nasi goreng buatan mama. Lalu memanaskan motor inventaris kantor. Datang disana setengah delapan. Beberapa orang mengangguk sopan. Aku membalas.

Di meja besar itu aku memimpin ritual pagi : rapat dan memberi instruksi

Bagaimana disana ?. Semua baik-baik sajakah ?.

Sebetulnya aku mau berhenti bertanya tentang itu. Cuma itu susah sekali. Mungkin hampir sama dengan berhenti merokok. Padahal merokok itu bisa membunuh. Terlepas dari ide tolol dari sebuah ormas dogol atau bahkan majelis usil indonesiaraya yang berfikir bahwa suatu agama tertentu adalah raja di negara ini. Intinya, aku ingin berhenti segala-galanya tentang kamu. Selama-lamanya.

Jadi bagaimana caranya ?

Sebetulnya bagaimanapun sama saja. Aku sudah duduk di kursi ini berjam-jam lamanya. Menunggu satu kata yang lewat buat memulai posting kali ini. Sepertinya mustahil, kalau saja St. August ngga lewat di YM tadi. Hei, judul posting ini nyontek dari blog-nya. Kamu tau, aku selalu bisa tertawa dengan manusia sinting itu. Sama seperti dengan Erwinh, Plak, Deli, Redi. Atau Asep, Deni, Restu, Deni, Aan, Rambo. Kamu kenal mereka semua ?.

Katanya : kamu tambah tua. Aku ketawa. Dia apalagi. Mungkin betul. Aku memang beranjak menua. Seharusnya usia 30 bukan waktunya buat mengembara lagi. Beberapa jiwa yang pernah ada disini sudah berlabuh. Juga beberapa saudara yang telah berbahagia menunggu atau menimang putera.

Akhir-akhir ini aku sedang suka musik-musik seperti Five for Fighting, REM, dan yang sejenis itu. Atau Kotak. Hei, Erwin bahkan mencantumkan ini secara khusus di statusnya dalam sebuah situs pergaulan. Hmmm. Aku seperti sedang bercermin waktu 100 years-nya F.f.F ada di playlist. Aku takut akan menjadi orang dalam lagu itu. Yang harus menunggu 99 tahun hanya untuk sedetik momen yang dia doakan sepanjang hidupnya.

kamu tau ?, kamulah doa terbaik sepanjang hidupku

Tapi kadang doa saja tak cukup. Dan aku harus percaya bahwa memang ada doa-doa yang tak terjawab. Dan aku akan belajar lagi tentang itu. tak bijaksana jika kita menyerahkan segala sesuatunya kepada doa.

Anyway. Aku tetap berharap yang terbaik buat kamu. Apapun itu. Karena aku percaya bahwa segala yang baik akan berakhir baik. Seperti aku. Kamu. Dan kita yang sekarang entah dimana.Mungkin dalam sebuah dunia paralel tanpa keberadaan waktu atau yang seperti itu.

Aku pamit.
 
posted by dydraa at 3:04 AM ¤ Permalink ¤