28.4.10
This time like this time
prewords : they said i'll get used to...

Jakarta-Jakarta. Tempat semua hal teraduk. Baur dalam satu wadah yang tak lagi indah. Sebuah kanvas besar yang tak lagi kosong. Dimana semua orang berlomba untuk mendapatkan sedikit tempat yang masih kosong. Di pojok-pojok kantor. Di gedung-gedung tinggi. Di dapur yang sempit. Di warung makan. Di terminal yang bau pesing. Di sumpeknya bis kota dan kereta api. Di dalam angkutan. Di jalan macet. Di tempat-tempat pelacuran. di dalam mesjid. Gereja. Vihara. Di tong sampah yang kotor. Dalam gedung dewan. Atau apapun itu. Dimana-mana. Entah sekedar garis buruk warna hitam. Atau gambar sebuah langit sore yang indah menjelang. Terserah. Orang bisa jadi apa saja disini. Jadi tuhan atau bajingan.

Nasibmu adalah tanganmu.

Dalam sebuah kantor berlantai 4, si lelaki duduk melamun. Memandangi lalu lintas yang ramai sekali. Lampu-lampu kendaraan berseliweran. Seperti laron di musim hujan. Mau kemanakah mereka itu ?. Kadang si lelaki bertanya dalam hati. Matahari hampir terbenam sempurna. Tidakkah mereka ingin pulang ?. Bertemu keluarga yang menyambut ramah. Makan malam bersama istri dan anak ?. Lalu bercengrkama dengan kawan-kawan lama ?.

Tidak.

Atau setidaknya, tidak terihat seperti itu. Baiklah. Itu urusan mereka. Mau pulang ke rumah atau ke gua. Sama aja. Yang penting judulnya pulang. Nah, urusan pulang-pulangan inilah yang membuat si lelaki bingung. Sudah beberapa waktu ini ia tinggal di kantor. Tidur makan dan mandi disana. Sebetulnya ini tidak terlalu buruk. Kantornya bersih rapi. Tenang dan sepi kalau malam. Air panas kopi dan gula selalu ada. Kasur ada. Tv ada. AC ada. Semuanya ada. Masalahnya cuma satu : si lelaki ingin sekali merasakan "pulang kantor". Yah mungkin itu hal sepele. Cuma tidak adil rasanya seorang karyawan tidak bisa pulang kantor. Sebuah hak yang mungkin lebih mendasar dari terima gaji.

Sebelum berangkat, bos si lelaki -yang juga tinggal dalam kantor-menahannya. "Disini sajalah. Tak usah you cari itu kost. Besok kita lari pagi lagi". Nah ini dia. Alasan kedua ya ini. Bos si lelaki adalah orang yang dalam proses menuju insyaf. Mengurangi minum. Makan teratur. Dan berolah raga. Sialnya, untuk hal terakhir ia tak mau pergi sendiri. Maunya lari pagi sambil ngobrol. Ke gym ngobrol. Golf ngobrol. Jadilah si lelaki menjadi korbannya. Setiap pagi lari keliling komplek. Sekali waktu ia pernah diajak main golf. Setelah itu kapok. Bukan apa-apa : membosankan. Dari pagi sampai sore berjalan mengikuti bola yang dipentungi. Hufff. Kalau ke gym masih mending. Cuma setelah itu capeknya tak juga reda. Memang aku tak bakat jadi olahragawan, putusnya.

Berangkat dari situlah ia bergegas. Pakai jaket hitam. Helm. Sepatu besar. Lalu berangkat cari kost-kostan. Terbayang olehnya rumah kost yang akan ditempati. Yang jelas jangan terlalu ramai. AC/Non AC tak masalah. kamar mandi kalau bisa di dalam. Seperti di rumah hijaunya. Dan kalau bisa ada pohonnya. Itu menjaganya untuk tetap berfikir bahwa ia masih ada di bumi. Bukannya di planet robot.

So, mulailah ia berkendara lagi. Pelan tapi pasti. Tanya sana sini. Sejam lebih berlalu. Tak juga ditemukannya rumah yang dirasa nyaman. Ada saja sebabnya. Dekat got. Banyak preman. Kumuh. Sempit. Tak ada parkir motor. Kamar mandi buruk. Genteng bocor. Gelap. Banyak nyamuk. Harga terlalu mahal. Banyak setannya. Tak ada jablaynya. Hal-hal itulah.

Hampir saja ia menyerah, ketika pandangannya jatuh di sebuah rumah petak mungil. Rumah ini persis dengan impiannya tentang rumah kost. Bangunannya baru. Warnanya kuning lembut. Murah. Tidak terlalu ramai. Dan bonusnya adalah, hmmm, si pemilih menanami banyak sekali pohon cemara berukuran sedang di tanah kosong depan rumah. Terimakasih Tuhan. Ternyata masih Engkau ciptakan manusia sadar lingkungan.

Jadi, si pemiliknya seorang ibu separuh baya. Orang betawi aseli. Mendelik curiga waktu si lelaki mulai bertanya.

"kamarnya masih ada yang kosong bu ?"

"emang buat siapa, bang ?"

"buat saya sendiri. Jadi kamarnya masih ada yang kosong bu ?". Kalimat terakhir diulang.

" Emang abang ini kerja dimana ?", si ibu tak menjawab. Malah bertanya lagi.

" Di daerah puri kencana bu. Masih ada yang kosong kan bu ?. Harap-harap cemas, si lelaki ingin mendengar jawaban "ya".

"bukan di taman Aries ?". Ibu ini punya masalah dengan etika bicara.

" Ya bukan bu. Emang ada apa di taman Aries ?. Saya mau tanya kamar kok, bu."

"Ada polres, bang. Saye kira abang ini pulisi". p-u-l-i-s-i. Dia bilang pulisi. Bukan polisi.

Si lelaki terhenyak. Menyadari penampilannya. Jaket hitam. Rambut Cepak. Sepatu besar. Wah, iya, aku seperti polisi. Tapi kenapa ?. Toh aku cuma tanya kamar...

"Saya bukan pulisi, bu. Saya karyawan biasa. Lalu kamarnya gimana bu ?". Ini sudah kesekian kali. Si Lelaki mulai berfikir apakah pertanyaan tentang kamar kosong itu begitu sulit dimengerti.

"Kamarnya ... ", si ibu gelisah, dan meremas jemari.

"Kosong kan, bu ?" Si lelaki mendesak. Si ibu berkali-kali melihat si lelaki lalu melihat kamar-kamar kosnya. Nyata sekali orang ini berusaha keras mengendalikan diri. Dan itu gagal.

"...maaf bang, kamarnya penuh...". Setelah berkata itu, si ibu itu langsung berbalik. Masuk rumah dan mengunci pintu. Begitu saja. Ya. BEGITUS SAJA !.

Di belahan bumi manapun, entah beradab ataupun belum. Entah betawi ataupun indian. Entah ibu kota ataupun bukan. Entah pada pulisi atau karyawan biasa, adalah tidak santun berkelakuan seperti ibu tua ini. Menjawab seperlunya dan berbalik punggung tanpa permisi. Sungguh, si lelaki setengah mati menahan marah. Ibu setua itu, apakah tidak pernah diajari sopan santun. Ibu setua itu, apakah seumur hidupnya dihabiskan untuk mencurigai orang yang seperti PULISI. Orang setua itu, bahkan tidak mengerti cara mohon diri !!.

Aku ini orang baik. Mau jadi karyawan yang baik. Aku tidak seperti preman. Tidak bertato dan bertindik. Tidak juga membawa lencana dan pistol di tangan, kalau itu yang beliau takutkan. Aku adalah seorang yang sedang belajar jadi cseorang calon suami yang baik dari seorang calon istri yang juga orang baik-baik. Kami semua berasal dari keluarga baik-baik. Bukan begini cara orang baik memperlakukan orang baik lainnya!!.

Si lelaki istighfar berkali-kali. Sesuatu yang amat jarang ia lakukan. Sesuatu yang ia pelajari baru belakangan ini. Menyadari bahwa tidak sopan orang berbalik punggung. Tapi adalah lebih tidak sopan lagi memaki-maki orang tua yang berbalik punggung. Yang entah punya pengalaman apa terhadap petugas pelindung dan pelayan masyarakat. Yang entah dengan alasan apapun, tidak mau menyewakan kamarnya. Itu hak beliau. Aku tidak bisa marah, pikirnya. Ini Jakarta. Tempat segala hal bisa terjadi. Ya, ini jakarta. Jakarta, Bung !.

Lunglai, si lelaki pun beranjak pergi. Berkendara pelan melintasi malam. Melintasi aspal yang makin kelam. Melintasi garis-garis putih. Melintasi gedung-gedung raksasa. Melintasi lampu-lampu kota. Melintasi Jakarta yang tak pernah lelap. Melintasi alam pikiran manusia, yang bahkan jauh lebih riuh dari mangkuk mie raksasa ini.

Sampai di kantor sudah larut. Gelap ini. Hening ini. Sunyi ini. Sebetulnya ia suka. Hanya kebutuhan akan perasaan "pulang dari kantor" lah yang bisa menjungkir-balikkan semuanya. Mungkin kali ini ia gagal. Tapi besok masih bisa dicoba lagi. Masih banyak rumah kost mungil yang lain. Masih banyak ibu-ibu yang lebih beradab. Masih ada hari esok. Dengan pikiran semacam itu ia tertidur. Hampir tepatnya ...

"Al, is that you ?", sebuah suara berat dan serak memanggil. Sesosok tubuh tegap meluncur dari tangga. Di tangannya ada dua kaleng bir. Di tangan dua saja. Tapi di kulkasnya kita bisa lihat puluhan kaleng semacam ini.

"Yes, bos. This is me".

"Haaa, bagaimana yu punya rumah sewa kamar ?. Sudah ada yang bisa dapat bayar haa??". Bicaranya memang begitu. Kata per kata persis begitu. Berantakan sekali. Ini memusingkan. Terutama malam ini.Pada waktu-waktu seperti ini. Ingin rasanya membawa orang ini ke les bahasa terdekat.

"Not yet. I'll try again tomorrow."

"Naaah, what I told you. Tak usah you cari kamar bayar. Bikin uang hambur-hambur. Disini free. Take it as your home. You kelihatan tidak fine, haaa. Here i bring you.

Kaleng disodorkan. Si lelaki menerimanya. Dan entah kenapa, dengan semangat balas dendam. dan lalu, silahkan saudara-saudara dengar siraman rohani dengan bahasa versi beliau ini :

So mean to say, Al, kita bisa lari tiap pagi biar kita fine haaa. You orang masih muda punya umur. Tapi dengkul you mirip benang, haaa. Gimana you bisa ambil istri kalau lemas begitu haaa ?. Yang dengkul saja ada tulang lemas. Bagaimana itu you punya..."

AAAARGH !!!!. Toast. Selamat malam Jakarta !.
 
posted by dydraa at 9:51 AM ¤ Permalink ¤