18.5.10
KV232
Prewords : terrace

Gerimis belum sepenuhnya reda. Seperti juga kabut yang masih menggantung. Semuanya lembab. Semuanya dingin. Semuanya sepi. Rumah-rumah ditutup rapat. Penhuninya terkungkung didalam. Sebagian di depan tv, dengan semangkuk mie dan kopi. Sebagian lagi di kamar, dengan pasangan masing-masing.

Sungguh. Sepi sekali malam itu. Si lelaki berjalan kaki. Melewati rumah-rumah. Melewati jalanan becek. Melewati pohon basah. Melewati teras-teras. Melewati setiap sudut yang ia kenali dulu. Pohon kersen di depan rumah asep. Ubin putih lembut di rumah Onoy. Sofa tua untuk rumah Atu. Tirai bambu di rumah deni. Hei, jangan lupa gang bersudut kalau mau ke rumah Hadi.

Di semua tempat itu. Di teras-teras itu. Di manapun ada tempat berukuran lebih dari 3x3 meter. Di rumah siapapun. Disanalah mereka pernah bersama. Tertawa dan bercerita. Tentang apa siapa dimana dan bagaimana. Gelas-gelas kopi. Pekat ataupun instan. Batang-batang rokok. Kadang berlimpahan. Kadang kekurangan. Kulit kacang untuk dilempar-lempar. Nasi bungkus yang dimakan beramai-ramai. Lauknya berlainan. Bisa jadi bebek goreng. Lain waktu ikan bakar. Tapi seringnya sayur buncis dan sepotong tempe dingin.

Kartu gaple menjadi saksi. Betapa pandai mereka di bidang ini. Ada kepuasan tersendiri ketika suara “plakkkkk !” terdengar. Tanda balak 6 yang menjadi momok berhasil dijatuhkan. Bunyinya sensasional. Gaya main pun tak sama. Atu penuh perhitungan. Aan pandai mengira. Asep berputar-putar. Hadi main tembak. Ule tukang intip kartu orang. Deni tenang tak terduga. Seperti itulah. Selalu ada bahan untuk tertawa. Dan selalu ada kata untuk bercerita.

“de !”, sebuah suara memanggilnya tiba-tiba. Lumayan kaget. Langkahnya terhenti dan menoleh. Owh. Seorang kenalan.Kenal tapi bukan kawan. Yang ini bukan termasuk lingkaran mereka. Walaupun ada, tak pernah gabung bersama.

Yang memanggil duduk di depan teras rumah. Sendirian seperti si lelaki yang langsung menghampiri. Disodorkannya rokok buat si kenalan yang langsung menyambar. Seolah-olah ia sudah menghabiskan seumur hidupnya di depan teras rumah, hanya untuk menunggu orang lewat yang bisa dimintai rokok.

“Disini jadi sepi, de…”, si kenalan angkat bicara.

“Hmmh” si lelaki mendesah. Entah malas entah mengiyakan. Kenyataannya, disitu memang sepi sekali.

“Anak-anak keluar Cirebon semua”

“Iya”. Si lelaki tak tahu harus bicara apa.

“Cari kerja”

“owh”

“Tau sendirilah, Cirebon. Kerja apa disini kalo ngga jadi tukang beca”. B E C A. Bukan becak. Bukan beca’. Bukan becaaa.

Hufff. Si lelaki mengepulkan asap. Benarkah begitu ?. Betulkah memang tak ada apa-apa di kota-nya ?. Tak adakah lumut-lumut hijau itu ?. Tempat ikan-ikan kecil berenang di kolam yang kecil ?. Tak adakah sebentuk kerja di kotanya yang sederhana ?. Apa sajalah. Selain tukang beca. Apa sajalah. Yang sederhana saja. Syukur-syukur bisa bikin kaya. Tak tahulah. Mungkin memang begitu. Sedangkan si lelaki sendiri harus menyingkir dari sana. Jauh dari teras-teras nyaman mereka. Jauh dari orang-orang sederhana. Yang bertahun-tahun ia panggil “saudara”.

Lama mereka berdiam saja. Tanpa ada kata-kata. Tanpa ada cerita. Tanpa ada tawa. Tak seperti malam-malam itu. Beberapa waktu setelahnya si lelaki mohon pamit. Si kenalan langsung mengiyakan sambil menguap tiada henti. Kantuknya tak bisa disembunyikan. Mungkin tadi niatnya basa-basi setelah diberi rokok. Siapa sangka malamnya berubah jadi acara lomba bungkam. “mampirlah kapan-kapan”, katanya pada si lelaki yang langsung pergi.

Sampai di rumah hujan makin deras. Si lelaki menggelar kasur lipat. Lalu berbaring. Matanya menerawang jauh. Mencari jiwa-jiwa yang berpencaran entah dimana. Mungkin aku merindukan mereka, putusnya dalam hati. Hmh.Ya, aku rindu kalian semua.

Bel kereta terdengar di kejauhan. Membelah malam yang makin kelam. Si lelaki menarik selimut dan tidur. Besok keretanya sudah menunggu. Jakarta lagi. Pasti.
 
posted by dydraa at 5:02 PM ¤ Permalink ¤