25.6.10
The Child Who Say "ghiiii"
Prewords : seperti yang di atas, demikian juga yang dibawah *

Ada sesuatu yang menggairahkan tentang keheningan, si lelaki menulis. Lagi. Ia sedang banyak ide. Salah satunya adalah mengenai keheningan. Sesuatu yang banyak didapatnya di sini. Di rumah ini. Di kamar depan. Di kamar belakang. Di meja kerja. Di depan jendela. Di meja makan. Di sofa depan. Di teras. Di loteng atas. Di lantai dekat tumpukan batu alam ditengah rumah. Di pinggir pantai CUDP **. Di gubuk mungil di perut Ciremai. Atau dimanapun. Tempat-tempat yang selalu membiarkannya berdiam dan terdiam. Orang-orang disekitarnya pasrah kalau ia sedang seperti itu ; duduk diam dan merokok dengan pandangan menerawang. Kadang -dalam level tertentu- tertawa sendiri. Kadang bersedih tiba-tiba. Lebih seringnya lagi diam tak mau bicara. Atau mungkin lebih tepatnya ; mereka malas mengajaknya berbicara.

Lalu entah darimana muncul saja berita yang tidak-tidak. Begitu juga yang dialaminya. Ada yang bilang si lelaki mendalami meditasi. Ada yang bilang ikut aliran nyepi. Yang bilang gila sudah biasa. Adapula yang bilang kesurupan. Frustasi menahun. Sampai ke masuk ajaran islam garis keras cuma karena jenggotnya tak juga dipapras. Ada-ada saja. Masa bodohlah. Yang penting ia tidak seperti itu. Ia cuma tak bicara kalau sedang tidak ingin. Apapun topiknya. Pendek kata, ia adalah lelaki normal yang menjalani 30 tahun cerita hidupnya dengan menyenangkan karena dikelilingi orang-orang yang menyenangkan.

Semuanya normal saja. Kalaupun ada yang berubah, mungkin cuma satu atau dua hal. Yang pertama adalah si Compaq hitam kesayangan yang selalu ada dalam gendongannya kalau tidak sedang terpancang. Isinya macam-macam. Beberapa diantaranya adalah file dan data pekerjaan. Sisanya, lagi-lagi hal yang menyenangkan. AoE untuk kumpul bersama kawan. Lagu-lagu pilihan. Sybian girl movies. JPEG tantri pemberian plak (hehehe). Buku-buku. Lain-lain. Banyaklah.

Hal satu laginya, Halim. Alim. Salim. Atau siapunlah namanya. Biasnya si lelaki itu cuma memanggil "lim" saja. Lim ini seorang anak kecil. Mungkin seumuran ponakan ndutnya, Lintang. Satu peristiwa membuat lim jadi agak tertinggal dari anak lain. Masih ngompol. Tidak bisa menelan liur sendiri. Dan sulit sekali berkomunikasi. Baik menerima ataupun bicara. Sebesar itu ia cuma bisa berkata "ghaaaa" atau "ghiii-iiii". Atau kombinasi antara keduanya. Itupun jarang sekali. Kebanyakan cuma diam sambil menundukkan kepala. Mungkin ia memang susah menegakkan kepala. Itulah yang menyebabkan air lirunya menetes kemana-mana.

Tangan anak ini tak bisa diam. Ada saja yang dilakukannya. Ia selalu penasaran dengan semua hal. Laci yang tertutup. Lemari berkunci. Pintu. Kaleng-kaleng. Ban sepeda. Sampai segala jenis tombol dipencetnya. Kadang si lelaki risih. Seringnya iba juga. Bukan salah anak ini jika sampai begini. Lahir dan besar dalam keluarga yang kurang beruntung secara finansial. Namun sesuatu dalam keluarga itu yang dipuji si lelaki. Ketegaran luar biasa untuk menghadapi sulitnya hidup. Jarang mereka mengeluh. Bagaimanapun kegetiran menampar. Keluarga alim adalah keluarga yang qona'ah. Menerima hidup apa adanya. Dan mencoba bangkit dari semua itu. Hebat. Sungguh. Pejuang-pejuang hebat dalam sebuah keluarga hebat.

beberapa waktu lalu mama si lelaki memutuskan untuk merekrut bunda alim. Seorang wanita perkasa berstamina luar biasa. Mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri saja. Mencuci. Menyetrika. Memasak kalau sempat. Menyapu dan ngepel pasti iya. Semua, pokoknya. Dahsyatnya, semua itu dikerjakan tanpa penurunan standar sama sekali. Dari pagi sampai sore semua pekerjaan dibabat tanpa sisa sama sekali. Menjaga rumah selalu rapi.

Pada waktu-waktu seperti itulah si lelaki kerap berjumpa dengan alim. Menunggu ibunya selesai kerja. Kadang bermain dengan lintang. Sisanya yang berdiam seperti biasa. Berbahasa dengan dunianya sendiri. Entah apa yang ada di dalam sana. Kadang si lelaki ingin sekali bisa mengintip sedikit. Apakah ada secarik kecerdasan yang tergumpal. Atau barangkali Tuhan meletakkan cahayaNYA di tempat yang begitu sederhana. Dalam kepala seorang anak kecil yang berbeda dengan sebayanya. Hingga tak seorangpun mengerti betapa ajaibnya itu semua.

Sore yang cerah di kamar depan. Si lelaki mengetik ini semua. Didampingi alim tentu saja. Yang duduk tenang. Kadang si lelaki bicara padanya. Yang dijawab ghiii dan ghaaa. Dielusnya kepala ini anak. Kasihan hanya bisadiam, si lelaki memutuskan berhenti sejenak. Ingin memberi alim sesuatu yang baru. Mungkin foto, pikirnya. Alim suka sekali dengan foto. Mari, saya tunjukkan foto langit, kata si lelaki. Alim tertunduk. Tangan si lelaki membuka koleksi fotografinya. Menunjukkan foto langit senja. Langit pagi. Foto abstrak. Mutchi. Cahaya lampu. Dan lain-lain.

"Ghiii", alim menggeleng. si lelaki heran. "Kenapa kamu ?", tanyanya lembut. "Alim ngga suka ?". Yang ditanya menggeleng sambil ber "ghiii" lagi. Tangan kecil yang selalu basah dengan liur itu menunjuk layar laptop. Menunjuk warna jingga dan awan-awan di sebuah foto langit senja. Lalu mulutnya ribut ber "ghaaa-ghiii" menunjuk-nunjuk jendela. Hmmm. Ada apakah ?. Si lelaki bingung. Ia pernah bicara tanpa bahasa. Dengan Doyok, seorang saudara yang bertempur bersama di Malang. Atau dengan Lintang ketika anak itu masih bayi. Atau dengan seorang perempuan bergigi kelinci, dulu. Ketika mereka berkata-kata dengan rasa. Tapi ini ?. Ia mencoba untuk mengerti. Tapi sulit sekali berkonsentrasi ditengah suara "ghaa-ghiii" itu.

Lalu sekejap saja kesadaran itu datang. Ah. Ya. Kenapa ia bisa lupa. Kenapa ia pusing untuk mencoba mengerti bahasa anak ini ?. Percuma. Karena memang tidak ada bahasa apapun disana. Karena bahasa diciptakan cuma sebagai alat bantu. Ya. bahasa bukanlah komunikasi. Dan adalah salah mengharapkan untuk mengerti bahasa anak kecil yang tidak bisa berbahasa.

Jadi diterimanya begitu saja. Seperti yang pernah diterapkannya pada Doyok, Lintang, dan perempuan bergigi kelinci. Tanpa harap untuk bicara. Cuma rasa. Rasa. Rasa. Dan semuanya menjadi mudah. Si lelaki tersenyum. Alim tak suka warna ini. Karena beda dengan warna langit senja pada umumnya. Lalu dicobanya lagi sebuah foto lain. Kali inipun yang ditanya menggeleng ghiii. Ya. Warna foto itu oversaturred. Sekarang yang hitam-putih. Punya Mutchi. Ghiii-nya masih ada. Walau lemah. Masih ada komposisi yang kosong disana. Modelnya kurang dekat dengan kamera. Setelah itu jadi makin mudah. Dibongkarnya semua koleksi fotonya. Dari semua momen. Semua angel. Semua objek. Ada saja yang membuat alim menggeleng. Horizonnya miring. Zoomnya payah. Hitam-putih yang maksa. Tonenya membosankan. Blur. Shake. POI "ga dapet". Fotonya kurang deep. Foto lain lagi kurang ramai. Angelnya kurang pas. Cropping berlebihan. ... lain-lain...lain-lain...

Segera si lelaki makin menyadari. Bahwa ada sesuatu dalam keheningan. Yaitu keriuhan luar biasa. Yang mungkin sama riuhnya dengan alam semesta. Manusia mencoba menangkap dengan lensa. Satu atau beberapa keping gambar hidup ini. Ini tak bisa dilakukan begitu saja. Ada sudut yang harus ditempati. Ada komposisi yang harus diperhatikan. Ada model yang harus diajak bicara baik-baik. Ada warna yang harus ditampilkan. Ada frame yang harus diisi. Dan ada pesan yang harusnya ada. yang tersembunyi dibalik selembar foto. Supaya tidak dilupakan dan dibuang begitu saja.

Footnote :
* Kalimat yang diambil dari novel The Lost Symbol - Dan Brown. Sebuah buku yang menghibur. Walaupun tak ada baru di dalamnya.

** CUDP. Entah apa arti atau singkatan dari apa. Yang saya tahu namanya begitu. Atau setidaknya disebut begitu. Tempat ini adalah lokasi budidaya perikanan air laut di wilayah Kesenden - Cirebon
 
posted by dydraa at 12:05 PM ¤ Permalink ¤