18.6.10
Whisp
Kadang-kadang, ya hanya kadang-kadang, lelaki itu ingin seperti ini saja. Duduk diam tanpa berkata-kata. Seperti kali ini. Memandangi bulir gerimis di jendela metromini yang hampir kosong. Tak ada siapapun kecuali beberapa penumpang sial yang agak kemalaman di jalan. Seorang bapak tua yang mengantuk di pojokan. Sepasang muda-mudi yang rupa-rupanya baru saja bertengkar. Di bangku depan, seorang pemuda sibuk dengan BB-nya. Kelihatannya tolol sekali. Ya, orang yang ribet dengan BB memang selalu begitu : tolol. Atau setidaknya terlihat begitu. Membudakkan diri pada alat. Paling depan sangat, si bapak sopir yang tangkas meminda-mindahkan perseneling. Memaksa mesin tua si metro meraung membelah Jakarta.

Sungguh. Semua itu tak ada yang menarik minatnya. Kecuali tetes air yang makin banyak. O, tak habis pikir si lelaki. Darimanakah air itu. Kenapa bisa jatuh disini. Akan kemanakah mereka mengalir ?. Ke dalam kerongkongan seorang presiden. Atau ke dalam ember cucian si pembantu. atau tergenang begitu saja di perkampungan kumuh di tengah belantara gedung ?. Saat itu kepalanya begitu penuh. Pikiran demi pikiran berjejalan dalam isi kepala yang tak seberapa besar. Seorang kawan pernah berkata, bahwa otak lelaki itu seperti gelembung sabun. Bubling tiada henti. Tak baik itu, kata si kawan, bisa gila kau nanti.

Gila atau tidak, tak pernah si lelaki mempermasalahkannya. Ia percaya bahwa satu-satunya yang masih waras di dunia ini cuma orang gila. Mereka begitu apa adanya. Tak peduli apa-apa. Langit dan bumi adalah rumah mereka. Bebas kemana suka. Tanpa ikatan bentuk apapun yang membelenggu leher dan kaki. Bahkan tak perlu merasa gila. Seperti itulah. Tidak ada yang gila di dunia yang gila ini. Jadi jalani sajalah. Toh pada akhirnya kita semua adalah orang gila. Dan itu tidak buruk juga.

Waktu sibuk memikiran air hujan dan orang gila, seorang pengamen masuk. Perempuan. Dengan rambut model buntut kuda. Pakai kemeja flanel kotak-kotak yang agak kebesaran. Tapi selain itu penampilannya bersih. Lain dengan pengamen jalanan pada umumnya. Sekilas saja memperatikan, tahulah si lelaki kalau perempuan ini bukan pengamen. Orang ini hanya ingin bernyanyi. Test mental atau apalah. Layaknya anak-anak band yang ingin menguji diri sebelum pentas. Sigap si lelaki memasang telinga. Bersiap mendengarkan. Ia paling suka hal-hal begini. Bukan apa-apa. Supaya bisa komentar.

Lepaskanlah
ikatanmu
dengan aku
biar kamu senang*

Lagu itu meluncur. Begitu saja. Tanpa permisi. Tanpa basa basi. Si lelaki terkesima. Mungkin semua sisa penumpang pun begitu. Suara si penyanyi itu enak sekali. Pastinya tak sama dengan Tantri. Tapi ini lain. Sunggung. Amat jarang ia menemui yang seperti ini. Satu lagu selesai sudah dan tampaknya si pengamen tak mau tambah. 1 song show. Seseorang bertepuk dari pojok. Bapak tua yang mengantuk tadi. Lalu pasangan yang bertengkar. Lalu menyusul yang lainnya. Sungguh. kalau kamu disini, mungkin kamu juga. Sebab ini betul-betul lain. Setelah itu segera seperti biasa, bungkus bekas permen beredar. Uang receh berjejalan di dalamnya. Tak banyak memang. Pun tak masalah juga. Sebab memang bukan itu yang dicari si pengamen.

Selesai menghitung, si pengamen duduk di bangku sebelah. Membelai gitar kopong yang diperlakukannya bagai keris keramat. Hati-hati sekali. Metro mini terus melaju ketika si pengamen perempuan kembali bernyanyi untuk dirinya sendiri.

Said what love is
Love is how it’s lost
Not how it’s found
**

Dahsyat. Demi Tuhan si lelaki betul-betul terperangah kali ini. Bagaimana bisa lagu ini ada di dalam sebuah metromini tua begini ?. Harusnya lagu ini ada di laptopnya. Diputar tiap hari. Atau ada di music alliance pact - sebuah pertukaran musik band indie antar negara lewat dunia maya. Atau setidaknya ada di kamar. Dengan segelas teh madu dan biskuit jahe. Si lelaki memejamkan mata. Menikmati setiap nada yang ada disana. Merelakan diri terbius dengan suara si penyanyi. Melayang jauh ke tempat yang tidak kamu mengerti. Jauh dari sana. Dari bising metromini. Jauh dari hingar-bingar malam jakarta.

Sungguh ia heran pada diri sendiri. Biasanya ia rewel dengan lagu. Lagu apapun. Ada saja salahnya. Gitarnya kurang keras. Drumnya monoton. Band nya banci. Live nya ngawur. Liriknya cengeng. atau apalah. Tapi tidak dengan lagu ini. Semuanya begitu sederhana. Cuma suara perempuan yang nyaris terdengar seperti orang berbisik. Dan gitar yang direkam dengan walkman. Tanpa mixing. Tanpa efek. Tanpa autotune. Lagu itu begitu saja adanya. Lengkap dengan fals dan desah nafas sang penyanyi. Juga suara "klik" dari alat perekam begitu lagu usai. Tapi rasanya itu begitu sempurna. Sehingga si pendengar cukup mendengarkan saja. Tanpa harus berfikir apa-apa.

Si penyanyi selesai. Begitu juga metromini yang mendekati tujuan. Si lelaki berdiri dan memberi senyum. Si pengamen membalas sopan. Dan tentunya masih manis sekali. Hujan masih gerimis ketika si lelaki melompat turun. Dipasangnya jumper penutup kepala. Lalu berjalan pelan-pelan. Pikirannya masih tertinggal di metromini tadi. Kepada pengamen berkemeja flanel yang kebesaran. Rasanya si lelaki pernah melihatnya. Entah dimana. yang pasti di suatu tempat selain disini.

Tiba-tiba sebentuk rindu menyeruak. Dalam. teramat sangat dalam. Pada perempuannya yang berambut dan berhati emas. Penimbang jiwanya. Pereda marahnya. Penyembuh lukanya. yang berada jauh dari sini. Dari Jakarta yang rumit ini. Mungkin dalam rumah hijau yang hangat. Atau di kamar tidur yang AC nya mati. Menanti si lelaki kecil pulang. Menunggui pintu coklat itu. Menyiapkan minum. Memanaskan air. Mengambilkan handuk. Menyediakan makan. Membuatkan kopi. Memijat kaki. Bertanya tentang hari. Atau seperti itu. hal-hal yang selalu membuatnya terenyuh. Ah, betapa ia kurang bersyukur. Bahwa Tuhan telah mengenalkannya pada sebuah kata baru. Kata itu bernama Dewi.

Dalam hati si lelaki berjanji akan lebih sering membalas sms. Atau menelpon. Walaupun sekedar bertanya apa kabar. Sedang apa. Sudah makan belum. Hal-hal kecil seperti itu. Setelah pulang nanti si lelaki pun berjanji akan mendekapnya erat. Dan mulai bercerita lebih banyak. Bahwa ia memang memuja Slipknot dan Koil. Tapi tak selalu begitu. seringkali juga, pada sisi lain hidupnya, ia bisa begitu jatuh cinta setengah mati pada musik-musik seperti yang dinyanyikan Club 8, Solvor Vermeer, Aqualung, atau bahkan The Whispy Hummer.

Kadang-kadang, ya, kadang-kadang saja hidup ini seperti misteri yang tak kunjung habis. Banyak hal yang tidak akan pernah kita tahu. Mungkin sampai dibawa mati. Seperti air hujan yang mengalir entah kemana. Seperti pengamen tadi. Tapi malam itu kepala si lelaki reda sudah. Ia belajar banyak dari lagu si pengamen. Bahwa kita akan banyak menemukan cinta. Dimana-mana. Di mata manusia. Di genggaman tangan. Di klub malam. Di tempat tidur, dimana orang-orang akan bicara cinta dan mendesah diatasnya. Tapi ternyata butuh lebih dari sekedar cinta untuk mencintai. Dan kita selalu sibuk untuk mencari cinta dan orang yang bisa mencintai. Sampai kita lupa untuk menjadi orang yang pantas dicintai. Kadang-kadang, cinta bukan sekedar cinta. Ada ketegaran disana. Untuk menerima apapun atau siapapun yang Tuhan berikan buat kita. Seperti perempuan yang begitu menerimanya. Seperti lagu itu. Ya. Seperti si pengamen yang berbisik dalam metromini tua.

footnote :

* : Sebuah lagu dari band kotak. Saya suka lagu ini. Mengingatkan pada 4 buah file jpeg yang diberi Plaque. ErwinH memberi komentar yang fenomenal untuk ini dengan kalimat ; "sakit lo pada !". Silahkan googling dengan keywords ; Tantri kotak. Hihih.

** : Lirik, gitar dan arransement oleh Joan. Salah satu dan mungkin satu-satunya personel The Whispy Hummer. Ada beberapa lagu yang semuanya sangatttt enakkkk sekaliiii. Percayalah, bahwa musik (indie) Indonesia ternyata bisa lebih dari sampah-sampah yang semakin sering muncul di tv.


Lirik lengkapnya adalah ;

My love is a plagiarism
I’ve seen it all in the bed
Of the people that I’ve met

And my love, you’re a dime in a dozen
I’ve seen you stand in the corner
Of my morrow light

But the colours there
Always stay that way
You went down down down
Eyes of shady brown
Give in to the ground
And when you go
No one would know

My love,
I’m but a promise with a catch
And by myself I could say
That you’re leaving me unkept

But love, you’d be the one
that’s worth a try
I’ve watched your face in the vast
Of the endless summer sky

Oh it’s a mystery
What you see in me
You went down down down
Went without a sound
Said what love is
Love is how it’s lost
Not how it’s found

My love, how I remember your hands
I’ve seen the light that appears
When they’re wrapped around my neck

Now say it one more time
How you’re my one last chance
We go down down down
Spin without a sound
Give into the ground
Here we go
And now we’re gone
 
posted by dydraa at 1:59 AM ¤ Permalink ¤