26.8.10
hujan kepagian
Prewords : no fruit for today

Selamat pagi.

Pagi yang cerah. Sebuah pagi dimana saya duduk di depan meja coklat itu. Telunjuk saya menelusuri buku kecil dimana saya mencatat semua jadwal. Ada client yang harus dikunjungi. Tapi beberapa menit lalu hp saya berrdering. Dengan semena-mena dibatalkannya janji itu. Tinggallah kini saya bersama meja coklat dan Staind.

Anyway, ini masih tetap pagi yang cerah. Ketika saya keluar dari kotak kecil saya. Sebuah pagi dimana saya meninggalkannya -si lelaki kecil- itu di pojok ruangan. Disana ia bisa duduk dan berceloteh seperti biasa. Memandangi dunia yang bergerak cepat. Memandangi semua peristiwa dengan matanya yang tak berlensa. Disana ia bisa apapun yang ia mau. Tanpa harus mengganggu lembar kecil ini.

Ini seharusnya jadi pagi yang cerah. Dimana saya mulai berdiri karena tak tahu apa lagi yang harus dikerjakan. Semua kegiatan untuk membunuh waktu sudah saya kerjakan. Baca. Gangguin Erwinh. Buzz-in plaque. Menyerut pinsil. Menggambar bunga matahari. Mencoret-coret kertas. Menggigit kuku. Semuanya sudah. Jadilah saya mulai melangkah mengelilingi ruangan ini. Memandangi meja yang berderet seperti tahu dalam mangkuk. Ya. Disini pun seperti mangkuk. Di ruangan ini. Di bawah atap ini. Kami adalah tahu. Dimana kami semua bergulat dengan segala yang kami bisa. Dari bawah sampai atas. Seperti semut yang berbaris teratur. Mencari makan bekal musim dingin nanti.

Saya melangkah ke dekat jendela. Tak bosannya saya berkata pada si lelaki kecil dalam pojok ruangan bahwa ini akan selalu menjadi pagi yang cerah. Walaupun cuaca gampang sekali berubah. Seperti juga pagi ini. Dimana 10 menit lalu cuaca masihlah cerah. Dan sekarang mendung bergelayut mesra pada bahu langit. Pertanda cerah yang dijanjikan pagi akan berakhir segera.

Dan hujanpun turunlah. Di satu pagi yang tadinya cerah. Menyirami setiap petak tanah ini. Menyirami apapun yang masih tersisa. Tanpa ampun. Menggerus setiap kotoran. Mencuci bersih dari hal-hal yang menyakitkan. Memberi semangat untuk tumbuh dan tumbuh lagi. Memberi denyut baru untuk tetap hidup dan menyambut pagi. Saya memandang jauh. Ke arah laut jawa. Jutaan titik air berebut jatuh ke laut. Kembali kepada tempat mereka berasal. Kembali ke pelukan ibu mereka.

Saya tersenyum. Kali ini cerah. Seperti juga si lelaki kecil di pojok ruangan. Ayo kemari. Cerahkan hari ini.
 
posted by dydraa at 9:39 AM ¤ Permalink ¤