19.8.10
longitudinal memories part I
prewords : Paman

Saya di stasiun. Datanglah. Saya ingin bicara. Hanya kamu yang bisa diharapkan.

SMS itu pendek saja. Datang di larut malam. Datang tanpa ditunggu . Seperti nyamuk yang menyerang di kala tidur lelap. Berdengung di telinga. Membuat orang gelisah tak bisa tidur. Tapi ini pun lain dengan nyamuk yang bisa pergi dengan kibasan tangan. SMS pendek itu tetap disana. Bertengger dengan manisnya di layar HP. Lengkap dengan waktu dan nama pengirim.

Si lelaki tersentak. Lama menghilang. Lama dicari. Tiba-tiba sms begini rupa. Ingin bertemu pula. Hufff, dihembuskannya nafas keras-keras. Jujur, ia malas. Sama sekali malas. Tak ingin bertemu. Apalagi bicara. Bukan apa-apa, ini pasti masalah. Apapun ceritanya, kedatangan si pengirim SMS pasti berujung masalah. Selalu begitu semenjak bertahun-tahun lalu. Entah kapan mulainya. Saking lamanya sampai si lelaki lupa. Ini bukan urusannya. Dan si lelaki paling malas mengurusi yang bukan urusannya.

Tolonglah...

SMS susulan datang lagi. Kali ini jauh lebih pendek. Tak urung si lelaki melunak. Ingatannya kembali kepada waktu-waktu lalu. Ketika mereka berada di atap yang sama. Dalam rumah yang sama. Dalam keluarga yang sama. Ketika yang bernama keluarga besar masih ada. Itupun kalau pernah ada. Setidaknya si lelaki menganggap begitu. Sampai suatu hari hal itu luruh pelan-pelan. Memudar sejalan masa. Seperti perdiangan yang meredup. Lalu abunya mendingin. Seperti itulah sekarang.

Jadilah si lelaki beranjak. Membawa uangnya yang memang tak banyak. Dingin malam memaksanya untuk merapatkan kerah jaket. Pelan, ia merayapi jalanan kota yang sudah sepi. Stasiun menjelang. Di diekat situ ada taman. Indah kalau siang. Tapi lain jika malam. Tak ubahnya seperti tong sampah. Sebuah tempat kumuh dan gelap. Tempat dimana semua manusia melepaskan topengnya. Pelacur murahan dan germo berseliweran. Belum lagi pedagang minuman. Disini semuanya murah. Tak perlu bayar mahal asal tak banyak rewel.

Disanalah mereka duduk. Di satu sudut taman. Di depan hotel murahan. Disamping pedagang minuman keras. Menghadapi gelas kopi dan rokok yang tak henti mengepul. Pria pengirim sms itu bicara panjang lebar. Si lelaki mengangguk-angguk. Sedikit karena ngantuk. Lebihnya karena malas. Ia disana bukan karena keinginannya. Atas nama keluarga besar sajalah yang membuatnya bertahan. Lain dengan pria jangkung yang duduk di depannya. Kata-katanya penuh api. Matanya nyalang membara. Penampilan pria jangkung jauh dari rapi. Kusut. Dekil. Tanpa membawa apa-apa. Hanya baju yang melekat di badan. Yang entah sudah berapa lama tak diganti. Tak seperti ketika si pria jangkung meninggalkan rumah.

Malam jatuh lebih larut. Stasiun mulai sepi. Bahkan para sampah pun perlu istirahat. Entah untuk apa. Mungkin hanya untuk mati rasa. Atau hanya untuk merasa bahwa mereka dapat di daur ulang. Jadi bagaimana, tanya si lelaki kepada pria jangkung. Yang ditanya pun kelihatan lelah sekali. Mungkin belum makan dan tidur. Saya ingin ke Jakarta. Mungkin disana masih ada pintu terbuka. Si lelaki kecil mengangguk. Menyanggupi permintaan itu. Mari saya antar ke terminal, si lelaki memungkas. Dengan itu mereka melesat. Terminal antar kota tujuannya.

Di atas motor mereka tak lagi bicara. Hanya diam. Diam yang aneh. Menggantung. Si lelaki miris tentang ini. Dulu tak begini. Mereka selalu berkata-kata. Bercerita dan tertawa. Seperti yang biasa dilakukan antar anggota keluarga. Sekarang tak lagi sama. Semuanya sudah berlalu. Seperti pesta yang telah usai. Yang tinggal hanyalah kenangan. Bahwa mereka pernah memiliki hari-hari seperti itu. Satu hal yang si lelaki tak mengerti. Sebetulnya pria jangkung ini punya semua hal yang diinginkan pria. Badan atletis jangkung. Rambut hitam lurus. Kulit putih bersih. Otak cemerlang. Istri cantik. Anak-anak yang lucu. Dan masa depan cerah. Hanya saja entah kenapa semua itu tak berbekas. Kini pria itu hanya pria lusuh. Dengan segala beban yang ditanggungnya. Ia tampak tua dan lelah. Yang paling parah dari semua itu adalah, pria itu tak punya tujuan. Tak tahu harus kemana. Tak lagi punya pintu yang terbuka untuknya. Bahkan di malam seperti ini. Di malam menjelang ramadhan.

Stasiun yang juga sepi. Si pria jangkung turun. Mereka bersalaman. Si lelaki mencium tangan pria itu. Selembar uang diselipkan tangan kurus si pria. Hanya ini yang saya punya. Maaf tak bisa banyak membantu. Si pria mengangguk kecil dan berterimakasih tak kunjung henti. Si pria memeluknya erat. Mendadak tenggorokan si lelaki kecil terasa begitu sakit. Segurat perih muncul tiba-tiba. Entah untuk apa. Mereka keluarga. Atau setidaknya pernah begitu. Darah mereka sama. Berasal dari rumpun yang sama. Membawa nama yang sama. Selalu berkumpul di rumah yang sama. Tapi sekarang semua terasa jauh berbeda.

Salam buat mama, kata si pria jangkung. Dengan kalimat singkat itu ia menghilang di kelam malam. Si lelaki pun beranjak lagi. Kaca helm ditutup rapat. Dibalik itu mata si lelaki mulai basah. Betapa jalan pikiran manusia ternyata begitu berbeda. Hangat dan nyaman disini. Dengan keluarga mereka yang begitu sederhana. Ternyata bukan itu yang diinginkan si pria jangkung. Melepaskan nama keluarga begitu saja. Jauh kesana ia menuju. Ke tengah gemerlap warna-warni Jakarta. Ke tengah belantara gedung. Ke tengah kerumunan manusia yang asing. Sebuah dunia yang tak pernah dimengerti oleh lelaki kecil seperti dirinya.

Ah...Si lelaki jadi ingin cepat pulang. Ia ingin membuka pintu cokelat itu. Dan menemui jiwa-jiwa itu. Berjanji ia tak akan meninggalkan mereka. Dengan itu ia akan membuka pintu lain. Pintu yang begitu agung dan suci. Pintu dimana semua janji kehidupan akan terpenuhi. Pintu dimana ia tak akan mendengar kedustaan di dalamnya. Pintu yang dijanjikanNYA kepada mereka yang menyambut dengan gembira datangnya sang Tamu Agung. Hmmm. Selamat datang. Sembuhkan kami.

( ... bersambung)

 
posted by dydraa at 11:57 AM ¤ Permalink ¤