21.8.10
longitudinal memories part II

Prewords : droplets

... Sampai di rumah sudah lewat tengah malam. Dirabanya pintu cokelat rumah. Kokoh walau tak lagi baru. Mengendap – endap si lelaki menuju kamar. Disandarkannya tas hitam lalu meraba isinya. Ia mencari sesuatu disana. Hmmh. Ini. Sebuah amplop cokelat sederhana. Tanpa tulisan apa-apa di depannya. Cuma sebaris kalimat pendek yang ditulis dengan tulisan tangan :

Untuk kamu yang memberiku keyakinan.

Sore tadi amplop ini diberikan seorang teman kepadanya. Ini titipan, kata yang mengantarkan. Si lelaki tersenyum. Tanpa membuka ia tahu siapa pengirimnya. Pelan dibukanya amplop itu. 2 Lembar penuh tanpa jeda. Kalimat panjang pendek bercampur baur disana. Si lelaki membaca pelan. Kadang tersenyum. Kadang menekuk alis. Kadang termangu. Selesai itu dilipatnya rapi. Dan dimasukkan ke amplop seperti awalnya.

Setelah sahur si lelaki duduk tercengung. Dihela lagi nafasnya. Lagi. Lagi. Lalu sekali lagi. Pelan-pelan ketenangan mengalir masuk. Amplop coklat di tangan. Hmmh. Ia mengenali tulisan itu. Bentuk tulisannya. Kata-katanya. Gaya menulisnya. Lipatan kertasnya. Bahkan dari jenis amplopnya. Ini ditulis bertahun-tahun lalu. Ketika semua masih begitu sederhana. Ketika semua masih begitu muda. Ketika keyakinan tentang hidup masih begitu lugu. Atau, setidaknya ketika yang bernama keyakinan masih ada.

Keyakinan. Ini juga hal yang tak mudah. Apakah yang membuat manusia yakin akan sesuatu ?. Mimpi ?. Keinginan ?. Harapan ?. Bertahun-tahun semenjak si lelaki kehilangan keyakinan atas segala sesuatu. Ia tak lagi ingin mempercayai apapun. Butuh kekuatan luar biasa untuk yakin terhadap sesuatu. Dan butuh pengorbanan luar biasa untuk menjalani keyakinan itu. Bukan trauma. Bukan pula jera. Hanya saja si lelaki memilih hidupnya yang seperti sekarang ini. Kita tak pernah tahu berapa banyak lagi kita dapat menanggung sakit. Dan kita tak pernah tahu kapan dan dimana hidup ini berakhir. Tak usah ditambahi beban yang tak perlu.

Sekejap lembaran itu muncul lagi. Pendar warna-warni masa lalu. Tentang 2 orang anak manusia yang membunuh jarak dengan kata. Membekali diri dengan keyakinan. Bahwa segala hal pasti bisa diraih. Waktu berlalu dan mereka lupa. Bahkan bintang pun bisa pudar. Bahkan langit pun bisa terburai. Begitulah. Serentet peristiwa merah berdarah. Tak terperi rasanya. Dunianya mengkerut. Mengecil. Dan meninggalkannya sendirian. Hmmm. Si lelaki menghela nafas. Masih terasa. Tapi pelan-pelan mereda. Setiap hari. Setiap waktu. Diniatkannya untuk berjalan lagi. Meninggalkan sisi gelap yang kadang masih kembali.

Adzan shubuh menjelang. Si lelaki bangkit. Diambilnya amplop tadi. Korek di tangan. Segeralah semua berubah jadi nyala terang. Berkobar benderang di tong sampah depan rumah. Mungkin akan sangat lama tetap begitu. Lagi, sebelum semuanya menjadi dingin dan luruh. Seperti abu di perdiangan. Seperti daur ulang semua kenangan. Karena hidup, adalah perjalanan. Maka berjalan sajalah. Berlari hanya akan membuatmu lelah sebelum sampai tujuan.

(...bersambung)

 
posted by dydraa at 10:46 AM ¤ Permalink ¤