28.10.10
Heaven does exist
Prewords : journey

Selalu ada dalam setiap jiwa, keinginan untuk keluar dari keadaannya sekarang. Entah sebentar. Atau selamanya. Menjauhkan diri dari dunia yang makin sakit ini. Melepaskan setiap kendali diri. Begitu bebas. Begitu lugu. Begitu murni. Untuk kembali menjadi manusia seperti dulu. Dulu sekali. Sebelum segala sesuatu diberi harga.

Kadang kita harus keluar dari apapun yang kita sebut rumah. Setelah lama terbenam dalam kehangatan. Dalam lingkungan yang tak lagi asing. Dalam putaran hari yang nyaman. Cetakan rutinititas membentuk kita menjadi manusia-manusia yang takut kehilangan semua itu ; kepemilikan atas seseorang atau sesuatu.

Kadang kita cukup berani untuk keluar beberapa langkah dari halaman depan. Menuju ketidak-tahuan. Mengikuti arus lain dari hidup. Menabrakan diri pada ketidak-biasaan. Seberapapun jauhnya kita harus pergi dari rumah. 1 meter. 2 meter. Atau jutaan kilometer. Ada semacam keingin-tahuan untuk melihat lebih. Dan bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang lebih indah daripada rumah. Apakah Tuhan benar-benar menciptakan sesuatu yang sangat indah. Yang dijanjikanNYA dalam setiap kitab suci yang dibaca manusia. Sesuatu yang kita bilang surga.

Beberapa dari kita membawa tas panggul besar. Menaiki lereng-lereng curam. Mencari puncak-puncak tinggi. Ada yang menuruni permukaan bumi. Melihat isi gua yang tak bisa dinikmati manusia diatasnya. Ada yang menceburkan diri dalam genangan mahaluas. Menyelami kedalaman lautan. Beberapa dari mereka pulang. Sisanya tak kembali. Hanya cerita-cerita mengharu biru tentang pemberani yang meninggalkan rumah.

Sayangnya segala pencapaian seringkali terletak jauh disana. Jauh dari pekarangan yang kita cintai. Kita harus begitu gigih. Mencari dan terus mencari. Hingga dalam satu saat. Satu keadaan. Satu moment apapun itu, kita menemukannya. Sesaat. Hanya sesaat saja. Lalu kita bersumpah telah melihat surga.

Apapun itu, selalu ada yang kita bawa dalam setiap perjalanan. Sedikit serpihan dari apapun yang kita sebut rumah. Itulah yang membuat kita selalu bisa pulang. Meninggalkan surga. Untuk kembali ke bumi dimana rumah kita berada. Sebagian diri kita akan tertinggal disana. Di suatu tempat entah dimana. Berjalan dalam dunia paralel. Yang tak lekang dimakan waktu. Tersimpan dalam dunia semu yang abadi.

Setelah kembali dalam rumah, kita tahu bahwa kita bukan lagi manusia yang dulu. Ada yang hilang. Ada yang kurang. Kadang terasa berat untuk membiasakan diri lagi. Memasang kendali sebagai manusia beradab. Tapi kita harus terus berjalan. Hidup tidak akan berhenti setelah kita pulang. Satu saat putaran akan kembali. Dan kita akan pergi lagi. Menuju apapun nanti yang kita cari. Sampai kita akan mengerti. Bahwa surga bukanlah sebuah tempat apapun itu. Tapi adalah keberanian kita untuk pergi. Dan kebijakan untuk kembali. Dan itu....

abadi.
 
posted by dydraa at 4:19 PM ¤ Permalink ¤