Prewords : Aku, kamu, dan mereka.
Dalam putaran pikirannya, konsep tentang waktu adalah sesuatu yang membingungkan. Sebuah penamaan terhadap ritme kehidupan yang berawal entah kapan. Mungkin ketika denyut besar itu dimulai. Mengembang sampai volme maksimal. Kemudian diciutkan seperti awalnya. Menjadi sebuah titik dengan kerapatan tak terhingga. Beberapa anggapan waktu akan berakhir disini. Sebgaian lagi mengatakan bahwa itu baru satu petak kecil saja. Seperti jantung yang berdegup. Mengembang dan menciut. Sampai mati. Sampai tak bisa berubah lagi. Maka ketika itulah waktu baru benar-benar akan berakhir. Masalahnya adalah, apakah konsep waktu benar-benar berguna ketika prosesi kembang-kempis itu takkan berakhir ?. Dan apakah hanya ada satu degup yang melakukan ritual itu. Bagaimana kalau ada semesta-semesta lain yang melakukan prosesi yang sama ?. Kapan mulainya ?. Kapan akhirnya ?. Lalu kepada apakah waktu akan ditambatkan sebagai patokan ?. Karena sepertinya mustahil membayangkan ada waktu yang berjalan beriringan dengan keabadian. Jadi sebetulnya, apakah waktu itu ada ?. Ataukah delusi masal seluruh manusia ketika mereka melihat arloji dan mengatakan jam berapa sekarang.
Dalam putaran jarum jam dan pertanyaan seperti itu jugalah si lelaki hidup dan berputar. Diatas permukaan bumi yang menua bersamanya. Dalam dunianya yang tak besar lagi. Menjalani hari-hari layaknya seorang lelaki biasa. Bangun pagi. Pergi bekerja. Pulang sore. Lalu mengunci pintu rumah dan tidur ketika malam sudah sangat larut. Masih disempatkannya juga untuk sekedar berkeringat dalam studio. Atau menyambangi dingin kaki Ciremai. Atau setidaknya membawa kamera saku kemana-mana untuk menangkap momen-momen yang disukainya. Sebisa mungkin ia melakukan hal yang berbeda setiap hari. Bukan apa-apa, si lelaki benci rutinitas. Ia tak ingin hidup seperti jarum jam. Selalu mengerjakan hal yang sama, berkarat lalu mati.
Dalam putaran hari-hari yang makin melelahkan si lelaki harus mengakui sekali lagi, bahwa ia tak muda lagi. Sering ia menengok sekeliling. Sepi. Hampir semua temannya sudah menepi dari masa lajangnya. Tertambat pada seseorang. Untuk kemudian melakukan perjalanan baru yang samasekali lain. Agak kekanakan memang. Tapi kadang ia sungguh merasa kesepian. Lalu cepat-cepat dihapuskannya pikiran seperti itu. Dipandanginya mereka semua dengan bangga. Dan iri tentu saja. DImulai dari Delly. Arif. Lalu berderet sampai ke Plak. Atau seperti apa urutannya ia lupa. Dan yang terakhir Erwin. Semua sudah berlabuh. Beberapa bahkan sudah berputra atau putri. Hmmh. Ia berjanji, setelah ini gilirannya. Dengan izin Tuhan tentu saja.
Dalam putaran-putaran itu, ada saat-saat dimana ia merasa waktu seperti berhenti berjalan. Terjebak dalam suatu kurun masa lalu behenti. Seperti ketika mereka, - ia dan seorang rekannya- mengunjungi sebuah …ah, apa istilahnya, sebuah tempat kecil bernama Ciledug dalam rangka tugas kantor. Bukan Ciledug-Jakarta. Tapi Ciledug betulan. Tempat ini seperti tak tersentuh waktu. Begitu kecil. Tua. Agak semrawut memang. Tapi ya itu tadi, waktu seolah tidak ada disini. Bangunan-bangunan tua. Rumah-rumah tua. Orang-orang tua. Mebel tua. Pohon tua. Hampir semuanya dibiarkan begitu saja. Terpencil dan apa adanya. Termasuk seorang bapak yang luar biasa ramah, yang menyambut mereka. Sebuah rumah tua. Besar dan asri. Rumah itu sekaligus menjadi pabrik kecap yang diberi merk Oedang Sari. Sebut merk ?. Hohoho tentu saja. Bukan berdusta bila si lelaki bilang bahwa ini kecap paling enak sedunia. Ia tak terlalu suka makan dengan kecap. Tapi yang ini lain. Sungguh. Diolah secara (amat) tradisional dan sangat bersih. Si bapak ramah itu membawa mereka masuk rumah-pabrik itu. Memperlihatkan isi rumah yang mungkin tak berubah semenjak puluhan tahun lalu, termasuk resep dan cara pembuatan kecapnya. Benar-benar antik dan orisinal. Mau ?.Silahkan coba.
Dalam putaran-putaran itu, ada saat-saat dimana waktu seperti berhenti berjalan. Terjebak dalam satu ruangan dan tak bisa keluar lagi. Seperti ketika mereka, – ia dan beberapa rekannya duduk menghadapi orang itu. Seorang yang angkuh luar biasa. Dengan pemikiran-pemikian aneh yang cenderung tolol. Berbicara kepada mereka hal-hal yang level urgenitasnya bahkan jauh dari “sedikit penting”. Ini sungguh menyiksa. Ia tak mengerti kenapa ada orang bodoh yang bisa begitu tinggi menilai diri sendiri. Si lelaki bersumpah dalam hati, bahwa satu hari nanti orang ini akan tahu rasanya patah.
Dalam putaran-putaran itu, ada saat-saat dimana waktu seperti berhenti berjalan. Terombang-ambing dalam lautan dan tak bisa bergerak lagi. Seperti ketika mereka, - ia dan rekannya yang lain berdiri diatas perahu. Dengan bapak-bapak nelayan yang membongkar hasil tangkapannya. Sebagian membetulkan jaring. Sebagian lagi menggoreng ikan untuk sarapan. Suasana riuh sekali. Tapi menyenangkan. Lelaki itu dan rekannya beringsut mendekat. Kepada mereka ditawarkan ikan goreng hangat dari kuali. Bermacam rupa dan jenisnya. Ada juga cumi-cumi. Rajungan. Enak sekali. Entah ikannya dan atau suasananya. Makan lahap bersama para nelayan yang laparnya melebihi beruang bangun tidur. Bapak-bapak itu pekerja keras. Menebar jaring dini hari. Di tengah lautan tempat angin berhembus tanpa halangan. Hanya bermodal kain sarung kumal penahan dingin. Rekan si lelaki itu hampir menangis suatu kali ketika melihat bapak nelayan tua sedang menjahit jaring. Ini mengharukan, katanya. Si lelaki membenarkan. Bapak-bapak itu melakukan semuanya sepenuh hati. Untuk menghidupi keluarga. Bukan untuk menumpuk harta. Bukan untuk berkata-kata dengan ketinggian hati dan ketololan. Seperti seseorang disana.
Dan dalam putaran-putaran itu, ada saat-saat dimana waktu seperti lambat berjalan. Seperti anak-anak kura-kura yang berjalan di pasir. Merindukan laut untuk mencoba perjalanan baru yang sama sekali lain. Seperti mereka. Seperti kawan-kawan si lelaki itu. Seperti itulah ia, si lelaki itu dan perempuan berambut emas. Berjalan beriringan sambil menunggu harinya tiba. Tidak selalu indah berpendaran. Tapi ini menyenangkan. Juga menyembuhkan.
Hingga pada akhirnya konsep tentang waktu bukanlah sesuatu yang penting lagi untuk dimengerti. Tidak ada yang namanya waktu. Semuanya hanya relativitas semu dari umur manusia. Bahwa waktu hanyalah seperti kelereng yang diserakkan serempak di permukaan yang maha luas. Sisanya hanyalah kelereng mana yang akan dipungut lebih dulu, untuk dimasukkan ke dalam tempatnya. Bukan masalah apakah kelereng itu akan diserakkan lagi. Ada hal-hal yang bukan urusan manusia. Dan tidak ada kepentingan kita untuk mengetahuinya. Masalahnya bukan dimana kita akan berserak. Kepada siapa kita tertambat. Dan kapan mulainya. Tapi adalah urusan kita untuk menghiasi permukaanNYA sebelum degupnya menciut lagi.
With love,
Al.