Pada waktu yang berjalan mundur
menemu tapak kaki yang masih basah
sisa lelehan hujan yang berhenti sedetik lalu**
Pagi yang tenang - ruang yang sepi. Dibacanya lembar hitam itu. Pelan. Huruf demi huruf. Kata demi kata. Baris demi baris. Pelan-pelan sekali. Seolah takut ada yang terlewatkan. Seringkali matanya kembali pada bagian-bagian tertentu. Untuk benar-benar memahami. Atau sekedar mengulangi majas yang ia suka
Kadang si lelaki menggigit bibir. Kadang menautkan alis. Kadang tersenyum. Kadang tertawa. Kadang mencatat. Lebih banyak menahan nafas. Pada tahun-tahun belakangan ini ia berfikir sudah melihat hampir apapun. Jarang ada yang membuatnya kaget lagi. Tapi hari ini ia kembali ternganga. Kehilangan bahasa. Mungkin "dahsyat" bisa sedikit mewakili.
Semua yang tertulis disana begitu khas sekali dengan orang itu -penulisnya-. Hitam. Kelam. Sederhana dan langsung pada intinya. Iman orang itu terhadap warna hitam bisa disetarakan dengan kepercayaan pagan terhadap api. Si lelaki pernah bertanya kepadanya tentang warna hitam. Arti warna hitam. Kenapa ada warna hitam. Kenapa harus pakai warna hitam. Orang itu menjawab semuanya dalam sebuah kalimat pendek saja. Ya, cuma sependek ini : hitam itu...enak, bisa ilang di tengah banyak orang. Si lelaki melongo. Tak mengira jawabannya akan sependek itu.
Sungguh. Si lelaki pernah begitu. Duduk berhadapan dengannya. Dengan bergelas-gelas kopi. Berbatang-batang rokok. Bertumpuk-tumpuk buku. Berkeping-keping kaset. Di dalam kamar kost di Surabaya yang panas. Hanya untuk mengerti hitamnya. Sampai suatu saat si lelaki mencapai pengertian tentang itu. Bahwa hitam adalah ibu dari segala sesuatu. Bahkan ibu dari alam semesta dan waktu. Kelak warna hitam jugalah yang tersisa setelah semua yang pernah diciptakan akan dihancurkan. Sejak itu kecintaannya terhadap warna hitam seperti batu.
Ya, orang itu mengajarinya banyak hal yang terlewatkan oleh orang kebanyakan. Untuk selalu memiliki sudut pandang baru ; kita tak bisa melihat gunung secara utuh dari sisi yang sama. Untuk selalu terbuka pada ide-ide baru. Untuk selalu melihat bahwa ada setiap alasan untuk setiap kejadian. Bahwa ada kebenaran diluar pengetahuan.
Tahun-tahun berlalu. Ketika akhirnya mereka sampai pada batasnya. Jalannya bercabang. Dan tidak semua hal baik dilakukan bersama-sama. Disanalah mereka saling melambaikan tangan. Singkat saja. Tapi ada beberapa bagian dari waktu yang rasanya bisa membunuhmu. Mendadak semuanya jadi sepi. Telaga itu surut seketika. Hanya meninggalkan setumpuk buku sejarah pewayangan dan beberapa kaset old-school punk. Seolah benda-benda itu adalah monumen ; kalau kamu kembali aku tidak disini lagi.
Pagi ini. Ruang ini. Jutaan tahun cahaya darinya, dengan titian setipis benang. Si lelaki tergugu. menjamahi huruf-huruf yang ia kenal. Kata-kata itu. Gambar-gambar. Bahasanya. Semua masih ada di tempatnya. Semua masih seperti apa adanya. Si lelaki tersenyum. Alangkah beruntungnya aku, pikirnya. Ia banyak mengenal orang-orang hebat. Yang mengajarinya banyak hal hebat. Ya, bukankah kehidupan adalah sebuah kampus mahabesar ?. Hmmm. Si lelaki tersenyum kecil. Lalu menutup livejournal itu.
Yah, waktunya untuk bekerja.
It is fully about and dedicated to iyu
footnote :
* Tag dari sebuah livejournal
** Salah satu tulisannya. Selengkapnya adalah :
puisi nisbi
Pada waktu yang berjalan mundur
menemu tapak kaki yang masih basah
sisa lelehan hujan yang berhenti sedetik lalu
namun teka teki waktu
adalah hal yang tidak kunjung kuurai
karena sedetik lalu
tidak pernah berada disitu.
tersimpan rapat dalam kotak masa lalu
beku.