Prewords : I know you know
Orang - orang selalu bertanya padanya tentang senja. Ya, jawabnya. Si lelaki memang mengenalnya. Ia mengenalnya melalui bisik-bisik perdu semak liar di sebelah meja batu. Ia mengenalnya dari nafas angin laut. Ia mengenalnya ketika sekali lagi matahari meredup. Memberi kesempatan bumi untuk memperbaiki diri. Ia mengenalnya lewat lembar-lembar kertas gambar. Ia mengenalnya dari tattoo gambar payung di lengan. Ia mengenalnya ketika lampu-lampu taman mulai dinyakalan. Ia mengenalnya dari warna-warna emas di antara langit. Ia mengenalnya ketika memandangi manuskrip "blendrang lebaran" yang terkenal itu.
Lalu orang-orang bertanya dimanakah senja sekarang. Si lelaki menggeleng pelan. Lama berselang semenjak itu. Ketika hujan deras yang menyirami siang yang panas dan payung jadi tidak berguna. Tapi selepas malam yang penuh api bertahun lalu,si lelaki jadi tak peduli lagi. Ia memberi jarak dengan langit senja dengan memandanginya dari bawah sini, di bumi tempat manusia berpijak.
Cirebon. Tempat ini sungguh ajaib. Kamu bisa kehilangan sekaligus menemukan disini. Ada waktu-waktu dimana segala sesuatu seperti sangat hidup. Seperti ketika kamu membaringkan tubuh di lapangan rumput dan mendengarkan akar-akar dan daun-daun yang tumbuh. Dan kamu akan terlena tanpa menyadari hidup tidak akan menunggu sampai kamu siap. Disinilah si lelaki belajar menulis ulang semuanya. Menggambar lagi bagian-bagian yang terlanjur buram. Merapikan lagi yang berantakan. Dan lalu membuang sauh untuk sebuah perjalanan baru.
Seperti itulah. Semuanya berlalu begitu saja dan dengan baik-baik saja. Sampai hari ini, si lelaki melewati senja di atas matic hitam bersama seseorang yang belakangan ini selalu melingkarkan tangan pada tubuhnya. Begitu tenang dan menyejukkan. Senja mengambang pada wajah mereka yang berubah menguning. Dari atas jembatan layang si lelaki bisa melihat semuanya. Sore yang tak berhuruf indahnya.
Ada bagian darinya yang ingin untuk sekedar menoleh kebelakang. Membuka lagi tutup kotak kecil itu dan memastikan semuanya sudah terlewati dengan baik. Pada sore yang indah itu si lelaki tersenyum. Mungkin perempuan di belakangnya juga. Satu hari senja akan datang pada mereka. Ketika kulit mengeriput dan rambut memutih. Ketika yang namanya cinta bukan lagi untuk dirasa atau diraba. Ketika kobaran itu memudar dan menyisakan bara hangat. Mendaur ulang putaran hidup mereka. Dan saat itu mereka akan siap menghadapkan wajah pada Pemilik Senja. Untuk berterimakasih dan memuji. Untuk satu sore yang indah.